
Yogyakarta, 18 Oktober 2025 — Masih dalam semangat White Cane Day, Sadar Belajar mengajak anak-anak difabel netra binaannya untuk merayakan hari istimewa ini melalui pengalaman yang penuh makna: menaiki KRL dan berwisata ke Kota Solo.
Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak difabel netra dari berbagai daerah, tidak hanya dari Yogyakarta tetapi juga dari beberapa kota di Jawa Tengah. Bukan sekadar perjalanan rekreasi, inisiatif ini menjadi wujud nyata kampanye Sadar Belajar untuk menegaskan bahwa setiap individu, tanpa terkecuali, berhak mengakses fasilitas publik dan transportasi umum secara aman dan setara.
Sejak pagi, Stasiun Tugu dipenuhi semangat. Anak-anak belajar mengenali arah, mendengarkan suara informasi keberangkatan, hingga memahami etika dan keamanan di dalam KRL. Relawan yang mendampingi mereka bertindak sebagai “teman bisik” sekaligus pendamping, menceritakan suasana perjalanan sambil menumbuhkan keberanian anak-anak untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.
Muhammad Viqi, selaku ketua panitia kegiatan, menyampaikan bahwa perjalanan ini merupakan bentuk pembelajaran langsung di ruang publik.
“Kami ingin White Cane Day tidak hanya dirayakan lewat simbol, tetapi lewat pengalaman. Anak-anak difabel netra perlu tahu bahwa mereka juga punya hak untuk naik KRL, menjelajah kota, dan menikmati dunia yang sama seperti kita semua,” ujarnya.
Setibanya di Solo, rombongan diajak berkunjung ke Pura Mangkunegaran, salah satu pusat budaya Jawa yang sarat sejarah. Di sana, anak-anak mendengarkan kisah tentang sejarah, iringan gamelan, serta tradisi yang hidup di dalamnya. Melalui suara, sentuhan, dan narasi para pemandu, mereka belajar memahami keindahan budaya dengan cara yang unik.
Kegiatan ini ditutup dengan refleksi bersama, di mana anak-anak berbagi cerita tentang pengalaman pertama mereka naik KRL dan menjelajahi kota baru. Banyak dari mereka mengaku merasa lebih berani dan percaya diri untuk bepergian.
Perjalanan ini bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi tentang menumbuhkan rasa percaya diri dan kesadaran sosial, bahwa aksesibilitas adalah hak, bukan fasilitas tambahan. Melalui langkah-langkah kecil di atas rel, Sadar Belajar ingin menumbuhkan harapan besar: bahwa suatu hari, setiap anak, dengan segala keberagamannya, dapat menjelajahi dunia tanpa hambatan dan tanpa rasa takut.